10 Rahasia Sukses Orang Jepang

Posted on Updated on

Image

Jepang adalah negara yang sangat maju dan luar biasa. Bulan Agustus 1945 dua kota besar di Jepang, Hirosima dan Nagasaki terkena bom, dan disaat itu pula Indonesia merdeka. Faktanya Jepang mempunyai akselerasi yang lebih tinggi dibanding Indonesia untuk membangun dan memajukan negara. Tidak hanya itu, Jepang juga rawan akan bahaya tsunami dan gempa bumi yang sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa memprediksi secara kurat kapan terjadinya. Hal inilah menjadikan Jepang menjadi salah satu kiblat dalam pembangunan, termasuk pembangunan karakter manusia.

Sesuatu yang ada hubungannya dengan negara Jepang memang menarik untuk dibicarakan. Budaya Jepang memang sedang diminati oleh kebanyakan anak muda saat ini. Banyak anak muda yang suka dengan anime jepang, film, drama Jepang (j-dorama), makanan, dan boy/girl band.

Berikut ini sepuluh rahasia sukses orang Jepang :

1. Malu

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dalam pertempuran. Setelah masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pemimpin yang terlibat korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Mereka malu terhadap lingkungan apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

 2. Mandiri

Sejak usia dini anak-anak dilatih mandiri. Bahkan seorang anak TK sudah harus membawa tiga tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Jika kehabisan  uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua dan nantinya akan dikembalikan.

 3. Pantang menyerah

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambah dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo, ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen).

Akio Morita awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tape miliknya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).

4. Loyalitas

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan.

 5. Inovasi

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat.

 6. Kerja keras

Bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai Jepang adalah 2450 jam/tahun. Sangat tinggi bila dibandingkan dengan Amerika yaitu 1957 jam/tahun, Inggris 1911 jam/tahun, Jerman 1870 jam/tahun dan Perancis 1680 jam/tahun. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di jepang dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

 7. Jaga tradisi, menghormati orang tua dan ibu rumah tangga

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari Anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki, maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.

 8. Budaya baca

Jangan kaget kalau Anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik). Sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca.

 9. Hidup hemat

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, mungkin Anda sedikit heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30, dan ternyata sebelum tutup itu pihak supermarket memotong harga hingga setengahnya.

 10. Kerjasama kelompok

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi pekerjaan yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut.

Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, namun 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”.

Oleh: Winda Chan
Ilustrasi: Ary Pratama
Editor: Kiki A Larasati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s